/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333} #melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 31 Maret 2014

14 Hari Mengambang di Laut, Susanti Ditemukan Masih Hidup

14 Hari Mengambang di Laut, Susanti Ditemukan Masih Hidup

POSO — Seorang perempuan bernama Susanti (32) ditemukan selamat oleh dua orang nelayan yang sedang memancing di laut. Korban Susanti diketahui merupakan warga Desa Lebo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Informasi dari Kepolisian Sektor Poso Kota, Susanti merupakan warga Desa Lebo, Kabupaten Parigi Moutong. Ia dan suaminya, Toni (33), saat itu tengah memancing ikan di laut. Tiba-tiba perahu yang ditumpangi suami istri ini terbalik di sapu gelombang laut.
Menurut Kapolsek Poso Kota Komisaris Polisi Urbanus Songgo, Susanti sudah dua minggu terombang-ambing di laut, kemudian diselamatkan oleh nelayan.
“Dari keterangan ibu ini, ia sudah 14 hari terombang-ambing di laut. Ia bisa bertahan hidup karena minum air hujan. Ibu ini diselamatkan oleh dua orang nelayan asal Tegalredjo, Poso, sekitar pukul 11.00 Wita tadi," kata Urbanus dihubungi Kompas.com, Senin (31/3/2014).
Dua nelayan tersebut adalah Sudirman (30) dan Aco (36). Dari keterangan keduanya, mereka melihat sebuah perahu yang terbalik dan seorang perempuan yang kondisinya sudah lemah.
Keduanya kemudian membawa perempuan ini ke puskesmas terdekat. Hingga saat ini suami Susanti belum ditemukan.(kompas/31/3/14)

Megawati: Saya Tak Punya Televisi, tetapi Saya Punya Rakyat

Megawati: Saya Tak Punya Televisi, tetapi Saya Punya Rakyat

MANADO — Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati menuduh media massa tidak berpihak. "Ah, media itu tidak terlalu berpihak lho. Saya kalau berbicara tidak berbohong. Lihat saja PDI-P itu iklannya sedikit," ujar Megawati saat memberikan pidato politik di hadapan puluhan ribu kader PDI-P di Manado, Senin (31/3/2014).
Megawati menyebut media saat ini dimiliki dan dikuasai para pemilik modal yang besar. "Media sekarang milik orang berpunya, saya tidak punya (stasiun) televisi, lho," tambah Megawati disambut tepuk tangan pendukungnya.
Walau tidak punya stasiun televisi, Megawati mengatakan, dirinya tetap percaya akan memenangi Pemilihan Umum 2014. "Tapi saya punya rakyat," tegas Megawati.
Kampanye akbar PDI Perjuangan yang digelar di Lapangan KONI, Manado, tersebut juga dihadiri para kepala daerah di Sulut yang berasal dari PDI-P. Sebagaimana diketahui tujuh dari 15 kepala daerah di Sulut merupakan kader PDI-P.
Dalam kampanye itu Megawati juga mengingatkan agar pada masa tenang nanti, kader PDI-P tidak terbujuk dengan politik uang. "Kalau Anda menerima uang itu sama saja Anda sebagai koruptor kecil karena Anda tidak tahu uang itu dari mana," ujar Megawati.(kompas/31/3/14)

SYIAH !!! BUKAN ISLAM

#SYIAHBUKANISLAM
Jalaluddin Rakhmat Caleg No. 1 PDIP Jawa Barat : Nabi kita Tidak Sama!

Video dibawah ini adalah rekaman suara dari Tokoh dedengkot Syiah Indonesia ketika menyampaikan ceramahnya di Islamic Cultural Centre (Poros penyebaran Syiah di Indonesia yang terletak di kawasan Pejaten/Warung Buncit, Jakarta Selatan) pada Kamis 13 Februari 2014.

Ceramah yang disampaikannya ini dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) negara poros Syiah, IRAN.

Tanpa berpanjang lebar, silakan dengar sendiri, mengapa ia katakan NABI KITA TIDAK SAMA?

VIDEO : http://www.youtube.com/watch?v=ROhTPfPdDdo#t=13

sumber : lppimakassar/koepas syiah

SYIAH BUKAN ISLAM !!! NO PDI PERJUANGAN

  1. #SYIAHBUKANISLAM
    Anda masih menganggap Syiah adalah Islam ? jangan diam saja carilah info tentang betapa kejamnya syiah DI suriah...

    MANTAN SYI’AH AKUI MISI BESAR SYI’AH
    DALAM MENGAMBIL ALIH PEMERINTAHAN INDONESIA
    AGAR BISA MEMBANTAI AHLUSSUNNAH SEBAGAIMANA DI SURIAH

    Syiah Indonesia :
    TENGAH MEMPERSIAPKAN REVOLUSI

    IMAMAH ADALAH KEWAJIBAN DALAM DOKTRTIN SYIAH. Ketika dia menjadi wajib, maka dia harus diperjuangakan. Menurut mantan pengikut Syiah, Ustadz Roisul Hukama, persiapan Revolusi yang seperti terjadi di Iran, juga tengah dipersiapkan Syiah di Indonesia. “Itu cita-cita. Jelas sekali,” tandasnya kepada para wartawan, Selasa (24/01).

    Karena ini sebuah desain yang cukup besar, rencana itu pun tengah dimatangkan dengan melibatkan berbagai tahapan. Salah satunya menanam kader-kader Syiah di berbagai ormas dan pemerintahan. “Harus dikuatkan dulu dengan cara orang-orang Syiah ditanam di mana-mana. Mereka semua ada di Ormas, Pemerintahan, dan juga partai politik,” beber pria yang juga mantan penasehat IJABI Sampang ini.

    Menurutnya konspirasi yang tengah disiapkan di Indonesia bagian dari sebuah konspirasi berskala global. “Ini sebenarnya bukan lokal, tapi internasional. Meski kecil mereka punya power. Coba lihat Zionis, meski kecil tapi power tidak? Mereka punya otak, duit dan senjata. Amerika pun bisa diperdaya,” sambungnya.

    Sebelumnya, petinggi NU, Kiai As’ad Ali juga mengatakan hal yang senada. Menurutnya, dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Syiah. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia, lembaga itu telah berdiri kokoh dan memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqlid dipimpin oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

    Lembaga Marja Al Taqlid, selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan beserta konstitusinya, juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintah, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut maktab atau lajnah asykariyah. Selama Marja al Taqlid ini belum terbentuk, maka pembentukan maktab askariyah pun pastilah belum sistematis dan terstruktur. (Pz)

    Mantan Syiah :
    JANGAN PERCAYA DENGAN ORANG SYIAH

    Menurut kaum Muslimin taqiyyah adalah sebuah istilah yang pemahamannya hanya terarah kepada satu arti yaitu “Dusta”. Namun mengapa dalam ajaran Syiah, berbohong justru dilestarikan?
    “Karena dalam Syiah berbohong adalah wajib. Semakin banyak taqiyyah semakin tinggi derajatnya,” tegas Ustadz Roisul Hukuma, mantan pengikut Syiah kepada para wartawan kemarin, (24/01) di Kantor MUI Pusat.

    Ia mengaku selama ini Syiah memang besar dengan kebohongan. “Karena jika tidak menipu, Syiah tidak akan berhasil,” lanjutnya.
    Beliau juga membeberkan kedustaan-kedustaan Syiah lainnya. Salah satu kasus menarik ialah ketika Syiah mau mengundang Muhammad Tijani As Samawi pengarang kitab al-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah (Syiah adalah Ahlus Sunnah). Ia mengatakan kitab tersebut tidak lain sebagai kitab propaganda. “Sejak kapan Syiah menjadi Ahlus Sunah?” Tanyanya.

    Namun tatkala mendengar At Tijani mau ke Indonesia, banyak ormas Islam tidak setuju. “(Kata para ormas saat itu) coba aja kalau berani, saya bom. Akhirnya kunjungan At Tijani dibatalkan. Dan yang datang akhirnya Ayatullahnya dan Mahkamah Agung dari Iran.”

    Menurutnya kantong terbesar Syiah di Indonesia ada di tiga provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat. “Itu kantong-kantong utama, sedangkan basis Syiah di Jawa Tengah berada di Solo,” paparnya.

    Akan tetapi secara global, Syiah sudah menyebar di seluruh pelosok nusantara, “Pokoknya dari Sabang sampai Maerauke ada,” imbuhnya.

    Segala kedustaan-kedustaan inilah yang akhirnya membuat beliau keluar dari Syiah. Meski dicalonkan untuk menjadi wakit ketua DPW IJABI Jawa Timur, ia menolaknya. Mantan Penasehat IJABI Sampang ini mengaku khawatir dengan azab Allah. “Sudah didunia diremote orang, akhiratnya pun kacau balau,” tutupnya.(Pz)

    Mantan Pengurus IJABI:
    SYIAH SERATUS PERSEN
    BERTOLAK BELAKANG DENGAN ISLAM

    Ustadz Roisul Hukama, Mantan Pengurus Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) ini membeberkan kesesatan ajaran Syiah. Menurutnya, ajaran Syiah sudah bertolak belakang seratus persen dengan ajaran Islam.

    “Bukan lagi separuh persen, tapi seratus persen. Jadi setelah tahu begitu saya out. Karena kita tidak mau semakin jauh. Nanti kita tidak mau jadi robot yang diremot. Ya kalau untung akhiratnya, sudah didunia diremote orang, akhiratnya pun kacau balau.” Tandasnya setelah Rapat antara MUI dengan Ulama Se Jawa Timur di kantor MUI Pusat, Selasa 24/01.

    Adik kandung Tajul Muluk ini mulai aktif dalam struktur IJABI pada tahun 2007. Namun dalam perkembangannya, banyak kedustaan dan penyimpangan yang dilakukan Organisasi Syiah terbesar di Indonesia itu.

    “Katanya (IJABI) mengusung pluralisme, nonpolitik. Katanya non mazhab, seluruh ahlul bait bisa masuk ke dalamnya. Tapi nyatanya, di dalam semua mau diajak ke wilayatul faqih. Wilayatul Faqih itu artinya revolusi imamah. Ketika saya tahu begitu dan penyimpangan-penyimpangan ushul lainyna, ini sudah masuk ahlul bid’ah fi akidah. Akhirnya saya keluar,” sambungnya.

    Selanjutnya, ia juga membantah pemberitaan media sekuler dan opini yang dihembuskan bahwa konflik di Sampang terjadi karena persoalan keluarga. “Tidak ada itu. Malu mas, naïf bicara begitu, sampai-sampai dunia internasional turun tangan. Masak gara-gara keluarga. Istimewa sekali,” kilahnya.

    Sebelumnya, Ketua Dewan Syura IJABI Jalaluddin Rakhmat mengatakan, konflik yang terjadi antara Sunni-Syiah di Sampang, Madura, bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena perbedaan pendapatan yang dipicu oleh konflik internal keluarga antara Ustadz Raisul Hukama dan kakaknya, Tajul Muluk.

Rabu, 26 Maret 2014

SBY keluhkan negara harus bayar uang darah TKI Sakinah

SBY keluhkan negara harus bayar uang darah TKI Sakinah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyarankan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) jangan melakukan kejahatan besar di negeri orang. Pemerintah terus mencari pengampunan dan pembebasan serta tebusan uang dari kejahatan yang dilakukan.
"Setiap warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri harus terus dilakukan sosialisasi, janganlah melakukan kejahatan yang besar. Kita harus terus mencari pengampunan dan pembebasan. Belum kalau harus membayar tebusan," ujar SBY dalam rapat terbatas di kantornya, Rabu (26/3).
Padahal, lanjut SBY, jika yang melakukan kejahatan saudara kita sendiri juga akan mendapatkan hukuman setimpal di Indonesia. Sedangkan para TKI yang bekerja di luar negeri terus mendapatkan pengampunan. Inilah yang menurut SBY harus dibicarakan baik-baik.
"Ini sedang kita negosiasikan urusan Satinah. Mencapai di atas 20 miliar rupiah, rakyat harus tahu. Apakah negara harus menanggung terus? Puluhan miliar dikeluarkan. Bagaimana keadilannya dengan rakyat di dalam negeri. Mari bicarakan baik-baik," ujarnya.
Dalam kasus Satinah, TKI yang bekerja di Arab Saudi itu membunuh majikannya lantaran terus dianiaya. Satinah divonis hukuman pancung di Pengadilan Saudi Arabia. Namun, pemerintah Indonesia mengupayakan agar tidak dihukum pancung yakni dengan membayar diyat (tebusan) yang diminta keluarga korban hingga Rp 25-26 miliar.
"Kita harus bekerja keras untuk bebaskan dari hukuman. Catatan, ayo jaga perilaku saudara di luar negeri. Tentang tebusan, bicara baik-baik. Apakah kita bebaskan berapa pun tebusannya. Yang menjadi tidak adil. Itulah sebabnya dua aspek kalau kita bicara WNI yang divonis hukuman mati," jelasnya.
"Kalau hal-hal ini terus terjadi, supaya negara, rakyat paham dan keadilan tegak bagi semua saudara di luar negeri dan dalam negeri," pungkasnya.(merdeka/26/3/14)
Foto: SBY keluhkan negara harus bayar uang darah TKI Satinah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyarankan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) jangan melakukan kejahatan besar di negeri orang. Pemerintah terus mencari pengampunan dan pembebasan serta tebusan uang dari kejahatan yang dilakukan. 
"Setiap warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri harus terus dilakukan sosialisasi, janganlah melakukan kejahatan yang besar. Kita harus terus mencari pengampunan dan pembebasan. Belum kalau harus membayar tebusan," ujar SBY dalam rapat terbatas di kantornya, Rabu (26/3).
Padahal, lanjut SBY, jika yang melakukan kejahatan saudara kita sendiri juga akan mendapatkan hukuman setimpal di Indonesia. Sedangkan para TKI yang bekerja di luar negeri terus mendapatkan pengampunan. Inilah yang menurut SBY harus dibicarakan baik-baik.
"Ini sedang kita negosiasikan urusan Satinah. Mencapai di atas 20 miliar rupiah, rakyat harus tahu. Apakah negara harus menanggung terus? Puluhan miliar dikeluarkan. Bagaimana keadilannya dengan rakyat di dalam negeri. Mari bicarakan baik-baik," ujarnya.
Dalam kasus Satinah, TKI yang bekerja di Arab Saudi itu membunuh majikannya lantaran terus dianiaya. Satinah divonis hukuman pancung di Pengadilan Saudi Arabia. Namun, pemerintah Indonesia mengupayakan agar tidak dihukum pancung yakni dengan membayar diyat (tebusan) yang diminta keluarga korban hingga Rp 25-26 miliar.
"Kita harus bekerja keras untuk bebaskan dari hukuman. Catatan, ayo jaga perilaku saudara di luar negeri. Tentang tebusan, bicara baik-baik. Apakah kita bebaskan berapa pun tebusannya. Yang menjadi tidak adil. Itulah sebabnya dua aspek kalau kita bicara WNI yang divonis hukuman mati," jelasnya.
"Kalau hal-hal ini terus terjadi, supaya negara, rakyat paham dan keadilan tegak bagi semua saudara di luar negeri dan dalam negeri," pungkasnya.(merdeka/26/3/14)

Sekjen PDIP: Yang jualan aset negara siapa ?

Sekjen PDIP: Yang jual aset negara siapa?

Serangan bertubi-tubi terus dihadapi oleh PDIP pasca penetapan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai bakal capres. Partai Demokrat, PKS dan Partai Gerindra yang melancarkan beragam serangan politik.
Salah satu sasaran empuk bagi lawan PDIP yakni soal penjualan aset negara Indosat ke Singapura saat Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai presiden. Hal ini yang terus disindir oleh para lawan politik PDIP.
Menanggapi sindiran ini, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo tak mau bicara banyak. Dia malah meminta tuduhan itu ditanyakan langsung kepada partai yang menuduh.
"Yang jual aset negara siapa? Tanya ke Gerindra," kata Tjahjo dalam pesan singkat, Rabu (26/3).
Sebelumnya, lewat puisi, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyindir Mega yang mengaku nasionalis tapi menjual aset negara. Puisi itu diberi judul 'Air Mata Buaya'.
Bahkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyindir juga hal tersebut. Dalam kampanye di Brebes, Jawa Tengah, SBY menyatakan bahwa selama 10 tahun pihaknya tak pernah menjual aset negara.
"Kita tidak pernah menjual aset negara. Kita tidak pernah bikin perjanjian migas yang merugikan negara. Kita tidak pernah menjual kapal tanker yang merugikan negara," ujar SBY
Berikut puisi 'Airmata Buaya' yang ditulis Fadli Zon seperti disampaikan dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Rabu (26/3):
Airmata Buaya
Kau bicara kejujuran sambil berdusta
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam
Kau bicara anti korupsi sambil menjarah setiap celah
Kau bicara persatuan sambil memecah belah
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan
Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita
Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama
Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata
Air mata buaya
Fadli Zon, 26 Maret 2014(merdeka/26/3/14)